Temukan koleksi karya tulis ilmiah mahasiswa UKIP
<div>Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana variasi suhu pada proses Post Weld Heat Treatment (PWHT) memengaruhi tingkat kekerasan dan struktur mikro hasil pengelasan TIG pada material black steel. Prosesnya melibatkan pengelasan TIG pada pipa black steel yang kemudian diberi perlakuan panas pasca las dengan tiga pilihan suhu: 100 °C, 150 °C, dan 200 °C. Pengujian dilaksanakan di Laboratorium Metalurgi Fisik menggunakan alat uji kekerasan Rockwell dan mikroskop dengan pembesaran 200x serta lensa 0,25 μm untuk menganalisis struktur mikro. Hasil menunjukkan bahwa perlakuan PWHT memberikan pengaruh signifikan terhadap sebaran kekerasan dan perubahan struktur mikro, terutama di area las, zona terpengaruh panas (HAZ), dan logam induk. Temperatur 200 °C memberikan hasil terbaik dengan struktur yang lebih seragam dan kekerasan yang merata serta lebih rendah, sehingga berpotensi mengurangi risiko retak akibat tegangan sisa. Struktur mikro utama yang ditemukan terdiri atas ferit, perlit, dan martensit, yang proporsi dan penyebarannya bervariasi tergantung pada suhu PWHT. Studi ini memberikan masukan berharga dalam optimalisasi teknik pengelasan dan perlakuan panas<br>untuk meningkatkan kualitas las pada baja karbon. <br><br>Kata kunci: Variasi Temperatur Post Weld Heat Treatment, Uji Kekerasa dan Uji Mikro, Material Black Steel</div>
<div>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis defleksi balok tumpuan sederhana dengan beban terpusat menggunakan metode elemen hingga. Pengujian defleksi atau lendutan pada balok tumpuan sederhana dengan beban terpusat menggunakan metode elemen hingga menghasilkan nilai yang sebanding dengan beban yang diberikan, dimana pada beban 10 N nilai defleksi eksperimen 0,38 mm dan nilai defleksi teoritis 0,49 mm. Beban 20 N nilai defleksi eksperimen 0,79 mm dan nilai teoritis 0,99 mm. Pada beban 30 N nilai defleksi ekperimen nya 1,13 mm dan nilai defleksi teoritisnya 1,49 mm. Dan pada beban 40 N nilai defleksi eksperimen 1,53 mm dan nilai defleksi teoritisnya 1,99 mm. Nilai defleksi ini selain dipengaruhi oleh beban, dipengaruhi juga oleh geometri balok, material yang digunakan dan juga tumpuan yang digunakan.<br><br>Kata kunci: Defleksi Balok, Beban Terpusat, Tumpuan Sendi-Rol, Metode Elemen Hingga (FEM)</div>
<div>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh sudut kampuh las terhadap defleksi pada baja ST 44. Metode penelitian ini adalah baja ST 44 dengan kampuh V 60°, V 70°, V 80°, dan V 90° yang digunakan dalam penelitian ini. Pengujian meliputi pengujian tarik dan pengujian defleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi kampuh V berpengaruh terhadap elastisitas baja ST 44 dimana sudut paling optimal dalam menjaga ketangguhan baja ST 44 yaitu V 70° dengan nilai modulus elastisitas 120.000 N/mm2 mendekati nilai spesimen normal yaitu 128.000 N/mm2. Selain itu, variasi sudut kampuh V juga berpengaruh terhadap defleksi baja ST 44, sudut yang optimal dalam menjaga defleksi baja ST 44 yaitu kampuh V 70° dengan nilai defleksi 1,92 mm, mendekati nilai spesimen normal yaitu 1,8 mm.<br><br>Kata kunci: Variasi Sudut Kampuh V, Defleksi, Baja ST 44</div>
<div>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi suhu tempering terhadap kekerasan dan mikrostruktur baja paduan AISI 4140, yang banyak digunakan dalam pembuatan komponen turbin gas. Penelitian dilakukan dengan perlakuan panas pada tujuh spesimen silinder baja AISI 4140, yang diaustenitisasi pada suhu 850 °C diikuti dengan proses quenching menggunakan oli SAE 40 dan tempering pada tiga suhu yang berbeda: 250 °C, 350 °C, dan 450 °C. Satu spesimen dibiarkan tanpa perlakuan panas sebagai pembanding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kekerasan tertinggi diperoleh pada suhu tempering 250 °C karena dominasi struktur martensit, mencapai 92,98 RHN. Seiring dengan peningkatan suhu tempering, martensit mulai terurai menjadi struktur ferit, perlit, dan bainit, yang menyebabkan penurunan kekerasan secara bertahap. Pada suhu 350 °C, struktur mikro yang seimbang dengan presipitasi karbida memberikan kekerasan yang cukup (89,79 RHN) serta meningkatkan ketangguhan. Pada suhu 450 °C, struktur menjadi lebih homogen dengan dominasi ferit dan perlit, menghasilkan kekerasan 87,89 RHN. Berdasarkan pengamatan mikrostruktur menggunakan SEM dan hasil uji kekerasan, dapat disimpulkan bahwa temperatur tempering 350 °C memberikan kombinasi terbaik antara kekerasan dan kestabilan mikrostruktur untuk aplikasi turbin gas skala kecil.<br><br>Kata Kunci: AISI 4140, Tempering, Kekerasan, Mikrostruktur, SEM, Perlakuan Panas</div>
<div>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan panas pasca las (Post Weld Heat Treatment/PWHT) terhadap kekerasan dan struktur mikro baja karbon yang dilas dengan metode Shielded Metal Arc Welding (SMAW) menggunakan elektroda E6013. Proses PWHT dilakukan pada suhu 600 °C dan 650 °C dengan waktu tahan 90 menit, kemudian didinginkan di udara. Uji kekerasan dilakukan dengan metode Rockwell (HRB), sedangkan pengamatan struktur mikro menggunakan mikroskop optik dengan pembesaran 200x. Hasil pengujian memperlihatkan bahwa PWHT menurunkan nilai kekerasan seiring meningkatnya suhu perlakuan panas, dari kondisi struktur martensit pada spesimen tanpa PWHT menjadi campuran ferit dan perlit pada suhu 650 °C, yang berdampak pada peningkatan keuletan material. Perubahan pada struktur mikro ini membuktikan bahwa PWHT mampu mengurangi tegangan sisa pada baja karbon.<br><br>Kata kunci: PWHT, SMAW, baja karbon , kekerasan, struktur mikro.</div>
Sungai Kula memiliki sumber material berupa agregat sungai yang cukup melimpah. Namun, belum dapat dipastikan bahwa agregat Sungai Kula ini layak digunakan sebagai bahan utama dalam pembuatan beton untuk bahan konstruksi yang memenuhi SNI dan memenuhi mutu beton yang baik pada pembangunan konstruksi. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik beton segar dengan menguji nilai slump dan berat isi beton segar, serta untuk mengetahui kuat tekan, kuat tarik belah, kuat lentur dan modulus elastisitas beton. Kata kunci: agregat sungai kula; beton segar; FAS.
Agregat dari Sungai Wisata Sarambu Assing telah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat setempat untuk pembangunan, namun belum ada penelitian yang menilai kualitas dan kecocokan agregat dalam bidang konstruksi. Tujuan. Mengetahui pengaruh variasi agregat maksimum kuat tekan, kuat tarik belah, kuat lentur dengan menggunakan agregat Sungai Wisata Sarambu Assing sebagai campuran beton. Dari penelitian ini untuk menggetahuhi pengujian kuat tekan beton diuji pada umur 3 hari,7 hari, 21 hari, dan 28 hari dan untuk pengujian kuat tarik belah, pengujian kuat lentur beton diuji pada umur 28 hari. Hasil. Dari hasil pengujian kuat tekan beton umur 28 hari dengan mutu rencana 30 Mpa diperoleh nilai variasi 19 32.649 dan variasi 25 29.818. Hasil pengujian kuat tarik belah (fct) beton umur 28 hari dengan mutu rencana 30 Mpa diperoleh nilai variasi 19 2,619 Mpa dan variasi 25 2.524 Mpa. Kata Kunci : Agregat Sungai Wisata Sarambu Assing, Campuran Beton
Bersumber penelitian yang sudah di laksanakan, faktor-fakor yang menyebabkan keterlambatan proyek konstruksi Gedung Branch Office BRI Somba Opu Makassar adalah tenaga kerja, material, peralatan, karakteristik tempat, keuangan, situasi, perubahan, perencanaan serta penjadwalan. Sedangkan faktor dominan penyebab keterlambatan pembangunan proyek konstruksi ini yaitu faktor tenaga kerja dengan sub faktor keahlian tenaga kerja dan faktor manajerial dengan sub faktor pengalaman manajer lapangan. Dampak dari keterlambatan pembangunan gedung tersebut mempunyai hubungan yang kuat dengan nilai korelasi tinggi. Sementara itu, mayoritas variabel lainnya berada dalam kategori hubungan cukup besar dengan nilai korelasi sedang. Kesimpulan. Keterlambatan pembangungan proyek konstruksi dengan RRI tertinggi yaitu faktor tenaga kerja dengan sub faktor keahlian tenaga kerja dan RRI terendah yaitu faktor manajerial dengan sub faktor pengalaman manajer lapangan. Kata kunci: proyek konstruksi; branch office; keterlambatan proyek konstruksi.
Penjadwalan dalam pelaksanaan proyek adalah hal yang sangat penting untuk menentukan pekerjaan dengan baik dan benar, oleh karena itu pembangunan suatu proyek tidak bisa lepas dari penjadwalan dalam meningkatkan keberhasilan proyek. Pada proyek pembangunan perumahan terdapat pekerjaan yang dikerjakan berulang atau pekerjaan dengan sifat repetitif. Metode Line of Balance (LoB) adalah salah satu metode yang dapat digunakan untuk menentukan rancangan pekerjaan dan efektif dalam jenis pekerjaan berulang. Penelitian ini dilakukan dengan observasi dilapangan dan menghitung durasi dari nilai volume setiap unit pekerjaan. Kata kunci: Line of Balance, Penjadwalan proyek, Proyek konstruksi.