Temukan koleksi jurnal penelitian ilmiah mahasiswa UKIP
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi suhu tempering terhadap kekerasan dan mikrostruktur baja paduan AISI 4140, yang banyak digunakan dalam pembuatan komponen turbin gas. Penelitian dilakukan dengan perlakuan panas pada tujuh spesimen silinder baja AISI 4140, yang diaustenitisasi pada suhu 850 °C diikuti dengan proses quenching menggunakan oli SAE 40 dan tempering pada tiga suhu yang berbeda: 250 °C, 350 °C, dan 450 °C. Satu spesimen dibiarkan tanpa perlakuan panas sebagai pembanding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kekerasan tertinggi diperoleh pada suhu tempering 250 °C karena dominasi struktur martensit, mencapai 92,98 RHN. Seiring dengan peningkatan suhu tempering, martensit mulai terurai menjadi struktur ferit, perlit, dan bainit, yang menyebabkan penurunan kekerasan secara bertahap. Pada suhu 350 °C, struktur mikro yang seimbang dengan presipitasi karbida memberikan kekerasan yang cukup (89,79 RHN) serta meningkatkan ketangguhan. Pada suhu 450 °C, struktur menjadi lebih homogen dengan dominasi ferit dan perlit, menghasilkan kekerasan 87,89 RHN. Berdasarkan pengamatan mikrostruktur menggunakan SEM dan hasil uji kekerasan, dapat disimpulkan bahwa temperatur tempering 350 °C memberikan kombinasi terbaik antara kekerasan dan kestabilan mikrostruktur untuk aplikasi turbin gas skala kecil. Kata Kunci: AISI 4140, Tempering, Kekerasan, Mikrostruktur, SEM, Perlakuan Panas
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan panas pasca las (Post Weld Heat Treatment/PWHT) terhadap kekerasan dan struktur mikro baja karbon yang dilas dengan metode Shielded Metal Arc Welding (SMAW) menggunakan elektroda E6013. Proses PWHT dilakukan pada suhu 600 °C dan 650 °C dengan waktu tahan 90 menit, kemudian didinginkan di udara. Uji kekerasan dilakukan dengan metode Rockwell (HRB), sedangkan pengamatan struktur mikro menggunakan mikroskop optik dengan pembesaran 200x. Hasil pengujian memperlihatkan bahwa PWHT menurunkan nilai kekerasan seiring meningkatnya suhu perlakuan panas, dari kondisi struktur martensit pada spesimen tanpa PWHT menjadi campuran ferit dan perlit pada suhu 650 °C, yang berdampak pada peningkatan keuletan material. Perubahan pada struktur mikro ini membuktikan bahwa PWHT mampu mengurangi tegangan sisa pada baja karbon. Kata kunci: PWHT, SMAW, baja karbon , kekerasan, struktur mikro
Pengelasan merupakan metode penyambungan dua atau lebih logam dengan mencairkan logam induk melalui energi panas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh ketebalan material terhadap karakteristik mekanik pada proses pengelasan SMAW. Material yang digunakan adalah baja karbon ST 44 dengan ketebalan 3 mm dan 5 mm, menggunakan arus pengelasan 90 A serta kawat las E308S berdiameter 2,6 mm. Metode pengujian yang diterapkan dalam penelitian ini meliputi uji tarik, uji kekerasan, dan uji metalografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi ketebalan material memengaruhi kekuatan tarik dan kekerasan material. Semakin tebal pelat yang digunakan, semakin tinggi pula nilai kekuatan tarik dan kekerasannya. Sementara itu, hasil uji metalografi menunjukkan bahwa struktur mikro pada spesimen 5 mm memiliki perlit yang lebih halus dibandingkan spesimen 3 mm, dengan dominasi fase ferit. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa peningkatan kandungan perlit dalam struktur mikro berkontribusi terhadap peningkatan kekuatan material.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis defleksi balok tumpuan sederhana dengan beban terpusat menggunakan metode elemen hingga. Pengujian defleksi atau lendutan pada balok tumpuan sederhana dengan beban terpusat menggunakan metode elemen hingga menghasilkan nilai yang sebanding dengan beban yang diberikan, dimana pada beban 10 N nilai defleksi eksperimen 0,38 mm dan nilai defleksi teoritis 0,49 mm. Beban 20 N nilai defleksi eksperimen 0,79 mm dan nilai teoritis 0,99 mm. Pada beban 30 N nilai defleksi ekperimen nya 1,13 mm dan nilai defleksi teoritisnya 1,49 mm. Dan pada beban 40 N nilai defleksi eksperimen 1,53 mm dan nilai defleksi teoritisnya 1,99 mm. Nilai defleksi ini selain dipengaruhi oleh beban, dipengaruhi juga oleh geometri balok, material yang digunakan dan juga tumpuan yang digunakan. Kata kunci: Defleksi Balok, Beban Terpusat, Tumpuan Sendi-Rol, Metode Elemen Hingga (FEM)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi suhu austenitisasi terhadap transformasi mikrostruktur dan kekerasan baja karbon S45C yang telah diberi perlakuan panas quenching dan tempering. Proses austenitisasi dilakukan pada tiga variasi suhu, yaitu 800 °C, 850 °C, dan 900 °C, dengan waktu tahan selama 30 menit, kemudian dilanjutkan proses quenching menggunakan media oli SAE 40. Setelah itu, spesimen diberi perlakuan tempering pada suhu 200 °C selama 30 menit dan didinginkan di udara bebas. Hasil pengujian menunjukkan bahwa variasi suhu austenitisasi memberikan pengaruh terhadap struktur mikro dan nilai kekerasan material. Pada suhu 800 °C, struktur mikro terdiri atas martensit yang mulai terbentuk, perlit, dan sedikit ferrit. Pada suhu 850 °C, struktur martensit terbentuk paling dominan dengan sedikit perlit dan hampir tanpa ferrit, menghasilkan nilai kekerasan tertinggi. Sedangkan pada suhu 900 °C, terjadi pertumbuhan butir berlebih dan munculnya kembali ferrit serta karbida sisa, yang menyebabkan penurunan kekerasan. Nilai kekerasan tertinggi diperoleh pada spesimen yang dipanaskan pada suhu 850 °C karena struktur martensit yang terbentuk secara optimal. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa suhu austenitisasi 900 °C merupakan suhu paling efektif dalam membentuk struktur martensit dan meningkatkan kekerasan baja karbon S45C pada perlakuan quenching dan tempering. Kata Kunci: S45C, heat treatment, suhu austenitisasi quenching, tempering, kekerasan, struktur mikro.
Penelitian ini bertujuan untuk Untuk mengetahui pengaruh waktu perendaman terhadap laju korosı pada media air laut dan air sumur Perendaman dilakukan selama 5 hari (120 jam), 10 hari (240 jam),15 hari (360 jam) dan 20 hari (480 jam) masing-masing dalam wadah yang berbeda-beda. Dari hasil penelitian pada pengujian laju korosi didapat nilai laju korosi dengan satuan mm/thn. Berdasarkan hasil penelitian, nilai laju korosi pada media air laut selama perendaman 5 hari adalah 0,07199 mm/thn, perendaman 10 hari adalah 0,0,08483 mm/thn, perendaman 15 hari adalah 0,07717 mm/thn dan perendaman 20 hari adalah 0,09235 mm/thn. Nilai laju korosi pada air sumur selama perendaman 5 hari adalah 0,04105 mm/thn, perendaman 10 hari adalah 0.04600 mm/thn, perendaman 15 hari adalah 0,04397 mm/thn, dan perendaman 20 hari adalah 0,05117 mm/thn. Perubahan warna tersebut sebagai bentuk produk korosi seragam. Kata kunci: Korosi, Pengkaran, Elekrokimia, Upaya Pencegahan Korosi
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh sudut kampuh las terhadap defleksi pada baja ST 44. Metode penelitian ini adalah baja ST 44 dengan kampuh V 60°, V 70°, V 80°, dan V 90° yang digunakan dalam penelitian ini. Pengujian meliputi pengujian tarik dan pengujian defleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi kampuh V berpengaruh terhadap elastisitas baja ST 44 dimana sudut paling optimal dalam menjaga ketangguhan baja ST 44 yaitu V 70° dengan nilai modulus elastisitas 120.000 N/mm2 mendekati nilai spesimen normal yaitu 128.000 N/mm2. Selain itu, variasi sudut kampuh V juga berpengaruh terhadap defleksi baja ST 44, sudut yang optimal dalam menjaga defleksi baja ST 44 yaitu kampuh V 70° dengan nilai defleksi 1,92 mm, mendekati nilai spesimen normal yaitu 1,8 mm. Kata kunci: Variasi Sudut Kampuh V, Defleksi, Baja ST 44
PT Win Wahana Cipta Marga adalah perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi infrastruktur, dimana alat berat seperti dump truck berperan penting dalam operasionalnya. Penelitian ini mengkaji penerapan Reliability Centered Maintenance (RCM) dalam menganalisis mode kegagalan pada sistem Differential. Dengan menggunakan RCM information worksheet untuk analisis Failure mode dan efek analisis, ditemukan 5 mode kegagalan pada sub sistem final gear dan 8 mode kegagalan pada komponen pendukung differential. Berdasarkan RCM decision worksheet, strategi pemeliharaan yang ditentukan meliputi tugas pemeliharaan terjadwal untuk mencegah kegagalan pada sub sistem final gear, dimana 3 dari 5 mode kegagalan dapat dicegah dengan scheduled discard task dan 2 mode kegagalan dengan scheduled on condition task. Pada komponen pendukung differential, 8 mode kegagalan dapat dicegah dengan kombinasi tugas terjadwal dan run to failure maintenance, dengan lima mode kegagalan dicegah melalui scheduled discard task. Penelitian ini memberikan panduan komprehensif dalam menentukan tugas pemeliharaan yang tepat guna meningkatkan keandalan dan keselamatan operasional sistem differential. Kata Kunci: Perawatan , Dump Truck, Gardan, Relibiality Centered Mintenance
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kekuatan tarik dan bending pelat stainless steel akibat pengaruh metode pengelasan MIG. Penelitian ini menggunakan material pelat stainless stell dengan ketebalan 2,35 mm dan menggunakan metode pengelasan adalah MIG dengan gas CO2, Tekanan gas divariasikan pada tekanan 30 bar, 35 bar dan 40 bar. Arus pengelasan yang digunakan adalah konstan pada 60 ampere. Spesimen uji tarik menggunakan standar ASTM E8 dan uji bending dengan standar ASTM E23-02 Pengujian dan pengambilan data dilakukan pada Laboratorium Metallurgi Fisik Program Studi Teknik Mesin UKI Paulus Makassar.Pada hasil penelitian dan proses perhitungan diketahui bahwa metode pengelasan MIG berpengeruh terhadap kekuatan tarik material, semakin besar tekanan gas yang diberikan maka semakin besar pula nilai kekuatan tarik yang didapatkan pada tekanan gas 30 bar diperoleh 286,45 MPa, pada tekanan gas 35 bar 407,98 MPa, pada tekanan gas 40 bar 463,09 MPa, sedangkan pada spesimen normal tanpa pengelasan diperoleh nilai kekuatan tarik sebesar 714,68 MPa, Metode pengelasan MIG berpengaruh terhadap kekuatan bending material, semakin besar tekanan gas yang diberikan maka semakin besar pula nilai kekuatan bending yang didapatkan. Pada tekanan gas 30 bar diperoleh 355,93 MPa, pada tekanan gas 35 bar 576,42 MPa, dan pada tekanan gas 40 bar diketahui 779,32 MPa, sedangkan pada spesimen normal tanpa pengelasan diperoleh nilai kekuatan bending sebesar 632,00 MPa. Kata kunci: Stainless Stell, MIG, Pengelasan, Pengujian Tarik.