Temukan koleksi jurnal penelitian ilmiah mahasiswa UKIP
<div> Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi arus listrik terhadap sifat mekanik hasil pengelasan uphill pada baja karbon. Proses pengelasan uphill sering digunakan untuk aplikasi dengan posisi vertikal yang memerlukan kontrol parameter pengelasan yang tepat guna menghasilkan sambungan las berkualitas tinggi. Metode penelitian ini adalah baja ST 47 dengan variasi kuat arus 70 A ampere, 80 ampere, dan 90 ampere yang digunakan dalam penelitian ini. Pengujian meliputi kekuatan tarik dan kekerasan, pada logam las dan daerah/yang terkena panas (Heat Affected Zone/HAZ). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa variasi arus terhadap kekuatan tarik pada baja ST 47 yang mengalami pengelasan SMAW yaitu pada nilai kekuatan tarik maksimum dengan nilai tertinggi terjadi pada spesimen arus 90 A dengan nilai 41,08 kgf/mm2 dan nilai kekuatan tarik maksimum terendah terjadi pada spesimen arus 70 A dengan nilai 36,1 kgf/mm2. Pada variasi arus terhadap kekerasan pada baja ST 47 yang mengalami pengelasan SMAW yaitu nilai pada daerah las tertinggi terjadi pada arus 70 A dengan nilai 107 RHN dan nilai kekerasan terendah terjadi pada spesimen arus 90 A dengan nilai 105,5 RHN. Pada nilai kekerasan HAZ dengan nilai tertinggi terjadi pada spesimen arus 70 A dengan nilai 104,09 RHN dan untuk nilai terendah pada HAZ terjadi pada spesimen arus 90 A dengan nilai 100,01 RHN. Kata kunci: Pengelasan Uphill, Baja Karbon ST 47, Variasi Arus, Kekuatan Tarik Dan Kekuatan Kekerasan. </div>
<div> Abstrak Penyaluran energi listrik oleh PT PLN (Persero) harus memenuhi standar kualitas dan efisiensi guna menjaga keandalan layanan kepada pelanggan. Salah satu tantangan utama dalam jaringan distribusi tegangan rendah (JTR) adalah terjadinya jatuh tegangan pada ujung jaringan. Kondisi ini menyebabkan turunnya kualitas layanan dan meningkatnya keluhan pelanggan, khususnya pada Gardu AL016 di ULP Alas Sumbawa dengan tegangan ujung kurang dari 207 V. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis upaya perbaikan tegangan ujung melalui dua metode utama, yaitu pengaturan ulang tap pada transformator distribusi dan pemasangan sistem grounding pada ujung jaringan. Data diperoleh dari pengukuran di lapangan sebelum dan sesudah perbaikan, serta melalui Aplikasi Manajemen Gardu (AMG) milik PT PLN. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaturan ulang tap trafo dari posisi 3 ke posisi 4 berhasil meningkatkan tegangan fasa-netral dari rata-rata 214,33 V menjadi 224,67 V. Selanjutnya, pemasangan grounding pada ujung JTR dapat meningkatkan tegangan mencapai 231,33 V. Tegangan di ujung jaringan yang di bawah 207 V meningkat menjadi rata-rata 216,33 V, dan secara keseluruhan menghasilkan kenaikan tegangan rata-rata sebesar 7,37%. Kedua metode ini terbukti efektif dalam meningkatkan kualitas tegangan dan efisiensi distribusi. Kata Kunci: Grounding, Tap Trafo, Tegangan Jatuh, Tegangan Ujung </div>
<div> Abstrak: Penggunaan energi terbarukan merupakan solusi dalam menjawab tantangan krisis energi yang terjadi. Salah satu energi terbarukan yang ada yaitu dengan memanfaatkan energi matahari yang melimpa. Kemajuan teknologi yang semakin pesat dalam bidang pembangkit listrik, seperti pembangkit listrik tenaga surya, membuat kemudahan dalam berbagai bidang khususnya sektor usaha menengah seperti bengkel. Penelitian dengan judul “Pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya Untuk Kompresor Angin dan Alat Pemanas Pada Pres Ban”. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode Library research dengan cara membaca buku yang berkaitan dengan penelitian serta mengutip pendapat para ahli dari buku- buku bacaan. Perancangan sistem pembangkit listrik tenaga surya untuk kompresor angin dan alat pemanas pres ban telah berfungsi dengan baik, dengan menggunakan panel surya 2 x 100 Wp, SCC 30 A, Aki 12 volt 100 AH dan inverter 1200 watt. Instalasi peralatan pembangkit listrik tenaga surya untuk kompresor angin dan alat pemanas pres ban telah dirangkai dan berhasil dengan baik. Pengujian kompresor membutuhkan arus rata-rata 0,76 A dan Tegangan 220 V dengan waktu 3 menit sedangkan untuk pres ban arus yang digunakan rata-rata 0,31 dan tegangan 220 V dengan waktu 5 menit. Besarnya tegangan dan arus yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh intensitas sinar matahari dan juga posisi panel. Kata Kunci: Panel Surya, Kompresor, Press Ban </div>
<div> ABSTRAK Restoran BONETA merupakan restoran di Makassar yang menghadapi tantangan dalam sistem pemesanan manual, terutama terkait efisiensi pelayanan. Dengan berkembangnya teknologi, restoran ini berencana untuk beralih dari menu fisik ke menu digital berbasis QR Code. Teknologi QR Code memungkinkan konsumen mengakses menu secara mudah dan cepat melalui perangkat seluler mereka. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan membangun sistem Digital QR Menu menggunakan teknologi MERN Stack, yang terdiri dari MongoDB, Express, React, dan Node.js, guna meningkatkan kemudahan akses informasi dan pengalaman konsumen di Restoran BONETA. Sistem ini diuji menggunakan metode black box untuk memastikan fungsionalitasnya, dan hasil pengujian menunjukkan bahwa 15 halaman penting dalam sistem, seperti login, pembayaran, laporan pesanan, dan halaman operasional restoran, berjalan sesuai spesifikasi. Dengan demikian, sistem ini berhasil memberikan solusi digital yang efisien, interaktif, dan mudah digunakan, serta siap diimplementasikan untuk meningkatkan pelayanan dan kenyamanan konsumen di Restoran BONETA. Kata Kunci: Restoran, QR Code, Digital Menu, MERN Stack, Akses Informasi, Black Box </div>
<div> Abstrak Pengukuran level air merupakan aspek krusial dalam manajemen sistem reservoir, namun keakuratannya sering dibatasi oleh sensor yang memerlukan kontak fisik dengan cairan, penelitian ini berfokus pada perancangan dan pengujian sistem deteksi level air otomatis di reservoir menggunakan sensor Omron 61F-G1-AP Water Level Control (WLC), proses pengujian melibatkan pemantauan laju aliran air dengan meteran air mekanis tipe AMBN, hasil percobaan selama tiga hari menunjukkan bahwa pengisian reservoir dengan sistem WLC mencapai volume rata-rata 2,1 m³ dalam waktu rata-rata 2.400 detik, sebaliknya, pengisian manual tanpa WLC mencapai volume 2,4 m³ dalam waktu rata-rata 2.888 detik, perbedaan signifikan dalam waktu pengisian diamati, menghasilkan perbedaan laju aliran (Q) antara sistem dengan WLC dan tanpa WLC sebesar 4,3 x 10−2 m³/detik. Kata Kunci: debit, meteran, tandon, waktu,WLC </div>
<div> Abstrak: Motor DC sering digunakan di berbagai industri. Kecepatan motor DC biasa mengalami stabil akibat gangguan baik dari luar maupun parameter yang diubah dari fabrikasinya sehingga perlu melalukan rancangan pengendali. Pengendalian dan monitoring kecepatan putar motor DC dalam sebuah sistem proses sangat penting perannya dalam implementasi di industri. Pengendali putaran motor DC dengan metode Proporsional merupakan sebuah sistem yang memanfaatkan pengendalian Proporsional untuk melakukan pengendalian terhadap kecepatan motor DC, agar dapat mempertahankan kecepatan yang diinginkan apabila diberi beban. Pada penelitian ini dilakukan perancangan pengendali kecepatan motor DC terkendali jangkar dengan metode pengendali Proporsional (𝐾𝑃) agar putaran motor DC terkendali jangkar tetap konstan ketika terbebani. Dari hasil perancangan dan simulasi dengan Matlab untuk fungsi alih sistem tanpa pengendali diperoleh sistem stabil dengan waktu 3,3 detik dan tidak ada overshoot yang terjadi, untuk fungsi alih sistem dengan pengendali proporsional untuk Kp = 25 diperoleh sistem stabil dengan waktu 1,8 detik dan tidak ada overshoot yang terjadi, untuk fungsi alih sistem dengan pengendali proporsional untuk Kp = 50 diperoleh sistem stabil dengan waktu 1,4 detik dan tidak ada overshoot yang terjadi, untuk fungsi alih sistem dengan pengendali proporsional untuk Kp = 75 diperoleh sistem stabil dengan waktu 1,5 detik dan tidak ada overshoot yang terjadi, untuk fungsi alih sistem dengan pengendali proporsional untuk Kp = 100 diperoleh sistem stabil dengan waktu 1,3 detik dan tidak ada overshoot yang terjadi serta untuk fungsi alih sistem dengan pengendali proporsional untuk Kp = 125 diperoleh sistem stabil dengan waktu 2,2 detik dan tidak ada overshoot yang terjadi. Kata-kata Kunci: Motor DC terkendali jangkar, pengendali Proporsional, fungsi alih </div>
<div> Abstrak Simulasi diawali dengan membangun model sistem nyata dimana model tersebut menunjukkan bagaimana beberapa komponen dalam sistem saling berinteraksi sehingga benar-benar menggambarkan perilaku sistem. Rangkaian RL, RC dan RLC adalah rangkaian yang dihubungkan secara seri. Tujuan dari penelitian ini yaitu menerapkan transformasi Laplace dalam menyelesaikan permasalahan rangkaian RL, RC dan RLC seri dengan analisis matematik dan dibandingkan dengan program Matlab. Metode penyelesaian yang digunakan adalah metode transformasi laplace dimana persaman diferensial dari domain waktu (t) diubah kedalam domain frekunesi (s) lalu menyelesaikan perhitungan aljabar menggunakan invers transformasi laplace untuk mendapatkan penyelesaian secara langsung dari persamaan differensial rangkaian listrik tersebut dan hasilnya dibandingkan dengan menggunakan program Matlab. Dari hasil penelitian ini diperoleh hasil penyelesaian untuk rangkaian RL seri diperoleh secara analisis dengan transformasi Laplace hasilnya sama dengan program Matlab yaitu i(t) = 0,04 − 0,04e−18,52t A, untuk rangkaian RC seri diperoleh secara analisis dengan transformasi Laplace hasilnya sama dengan program Matlab yaitu i(t) = 0,04e−1,67t A, dan untuk rangkaian RLC seri diperoleh secara analisis dengan transformasi Laplace maupun dengan program Matlab hasilnya sama yaitu i(t) = 0,05e−1,85t − 0,05e−16,67t A. Kata Kunci: hukum Kirchoff II, Matlab, persamaan differensial, Rangkaian RLC seri, transformasi Laplace </div>
<div> ABSTRACT <br>Bincir air undershot adalah jenis kincir air tertua, kincir air vertikal dengan poros horizontal yang berputar dengan dorongan air yang terus menerus mengalir di bawah kincir pada sudu. Pembuatannya relatif sederhana dan murah, telah banyak digunakan kincir air undershot dapat digunakan untuk irigasi, sebagai pompa distribusi air, pembangkit listrik, penghasil energi murah, pengolahan hasil pertanian, meningkatkan produktivitas pertanian dan dapat digunakan sebagai objek wisata . Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis kincir air untuk kebutuhan irigasi di wilayah Patongloan. Penelitian ini dilakukan dengan pengujian undershot pada kebutuhan irigasi, dengan diperoleh kinerja kincir air dengan kecepatan aliran maksimum 3,47 m/s, luas penampang saluran maksimum 0,17 m2. dan debit maksimum 0,5833 m3/s. Daya air maksimum sebesar 1659,52 watt, gaya fluida yang mengenai sudu sebesar 331,55 N dan torsi sebesar 629,94 Nm serta daya maksimum turbin sebesar 1232,97 watt dan efisiensi sebesar 74,296%. Kincir air ini dapat menghasilkan volume air maksimal 0,0182 m3 dalam waktu 2 menit atau setara dengan 18,2 liter dalam waktu 2 menit. </div>
<div> Abstract—The performance comparison of Crossflow turbines is greatly influenced by the position of the nozzle in the conversion of water energy into mechanical energy that occurs through the blades, runners, and shafts of Crossflow turbines. The study aims to directly examine the visualization of water fluid dynamics across the turbine runner blade and enhance the performance of the Crossflow turbine by varying the nozzle position. This study intends to investigate the impact of water flow dynamics and emission on the performance of Crossflow turbines with a combined horizontal-vertical nozzle position, specifically focusing on the magnitude of the number of turbine blades driven and the size of the runner blade area. The objective of investigating nozzle position variations in Crossflow turbines is to determine the specific nozzle position at which the turbine blade may efficiently extract maximum energy from the water flow, hence optimizing turbine performance. The research method using models made using CAD software is AutoCAD by exporting to IGES or IGS format to be compatible with ANSYS. The simulation of this research is with post-processing. There are three, namely making animations, making contours, and taking data to compare cross-turbine performance using variations in nozzle position. Crossflow turbine performance with horizontal nozzle position torque and turbine power is lower, and there is an increase in a vertical position. Then, the horizontal and vertical nozzle position is very good because the nozzle is more effective with maximum turbine performance, namely 13.811-watt turbine power 1,099 turbine torque at 120 rpm. Keywords—Crossflow turbine; turbine performance; nozzle position variation; ANSYS simulation. </div>