Temukan koleksi jurnal penelitian ilmiah mahasiswa UKIP
Tujuan penelitian ini adalah untuk 1) mengetahui efisiensi boiler akibat penggunaan fiber dan cangkang kelapa sawit dan 2) mengetahui nilai kalor/panas ruang bakar akibat penggunaan fiber dan cangkang kelapa sawit sebagai bahan bakar boiler dengan kombinasi fiber 25 % dan cangkang 75 %. Penelitian ini dilaksanakan di PT.Tamaco Graha Krida, Desa Ungkaya, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Hasil dari penelitian ini adalah 1) Penggunaan fiber dan cangkang kelapa sawit sebagai bahan bakar boiler berpengaruh terhadap efisiensi boiler. Yang dimana efisiensi boiler awal yaitu 98 % dan efisiensi terendah yaitu sebesar 80 %. Faktor yang mempengaruhi efisiensi boiler yaitu tekanan superheater, temperaturiairiumpan, temperaturi uap, jumlahiuap yangidihasilkan, jumlah konsumsiibahanibakar, dan nilaiikaloripembakaran bahanibakar yang tidak stabil. 2) Penggunaan fiber dan cangkang kelapa sawit sebagai bahan bakar boiler berpengaruh terhadap nilai kalor/panas ruang bakar boiler. Dimana kalor yang dibutuhkan pada ruang bakar boiler yaitu sebesar 29527306,0468 kkal/jam. Jika kalor yang dihasilkan lebih dari kalor yang dibutuhkan, maka akan mempengaruhi ruang bakar boiler dimana dapat dilihat dari asap yang akan dihasilkan berwarna hitam. Pengaruh kalor yang berlebihan biasanya disebabkan oleh kelebihan bahan bakar cangkang pada proses produksi. Kata kunci : Boiler, Fiber, Cangkang Kelapa Sawit
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi arus listrik terhadap sifat mekanik hasil pengelasan uphill pada baja karbon. Proses pengelasan uphill sering digunakan untuk aplikasi dengan posisi vertikal yang memerlukan kontrol parameter pengelasan yang tepat guna menghasilkan sambungan las berkualitas tinggi. Metode penelitian ini adalah baja ST 47 dengan variasi kuat arus 70 A ampere, 80 ampere, dan 90 ampere yang digunakan dalam penelitian ini. Pengujian meliputi kekuatan tarik dan kekerasan, pada logam las dan daerah/yang terkena panas (Heat Affected Zone/HAZ). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa variasi arus terhadap kekuatan tarik pada baja ST 47 yang mengalami pengelasan SMAW yaitu pada nilai kekuatan tarik maksimum dengan nilai tertinggi terjadi pada spesimen arus 90 A dengan nilai 41,08 kgf/mm2 dan nilai kekuatan tarik maksimum terendah terjadi pada spesimen arus 70 A dengan nilai 36,1 kgf/mm2. Pada variasi arus terhadap kekerasan pada baja ST 47 yang mengalami pengelasan SMAW yaitu nilai pada daerah las tertinggi terjadi pada arus 70 A dengan nilai 107 RHN dan nilai kekerasan terendah terjadi pada spesimen arus 90 A dengan nilai 105,5 RHN. Pada nilai kekerasan HAZ dengan nilai tertinggi terjadi pada spesimen arus 70 A dengan nilai 104,09 RHN dan untuk nilai terendah pada HAZ terjadi pada spesimen arus 90 A dengan nilai 100,01 RHN. Kata kunci: Pengelasan Uphill, Baja Karbon ST 47, Variasi Arus, Kekuatan Tarik Dan Kekuatan Kekerasan.
Analisa Pengaruh Jenis Elektroda Terhadap Sifat Mekanik Baja ST41 Hasil Pengelasan SMAW (Dibimbing oleh: Benyamin Tangaran, S.T., M.T., dan Kristiana Pasau, S.T., M.T.,) Tujuan studi ini guna melihat pengaruh jenis elektroda pada kekuatan tarik material SS400 yang dilas dengan memakai ASTM E23 dengan memakai prosedur pengelasan SMAW. Materialnya SS400 dengan ASTM E23 mengalami perlakuan dalam mengelas dengan memakai beragam jenis elektroda, yaitu E6013 dan E7016. Temuan memperlihatkan jenis elektroda ada pengaruh pada kekuatan tarik material, dimana jenis elektroda E7016 mempunyai nilai tertinggi 43,33 kgf/mm2 dan jenis elektroda E6013 di urutan kedua yaitu 33,02 kgf/mm2. Sesuai dengan standar ASTM E8M-01 dan ASTM E23, spesimen akan dibuat dengan memakai benda uji baja karbon ST41 untuk memenuhi tujuan studi. Benda-benda ini lalu akan menjalani pengujian impak dan tarik. Menemukan kekuatan tarik spesimen dilaksanakan dengan pengujian tarik. Kekuatan tumbukan logam dievaluasi memakai pengujian tumbukan. dalam melaksanakan pengujiannya, dipakai “Universal Testing Machine”. Kata Kunci : Uji Tarik, Uji Impak, SMAW
Penelitian ini berfokus pada analisa kekuatan tarik dan kekerasan pada baja ST.32 memakai elektroda E 6013 dan E 7016. Baja ST.32 dipilih karena material ini sering digunakan dalam berbagai aplikasi industri yang membutuhkan baja yang memiliki keuletan yang tinggi. Sampel penelitian dibuat dengan memakai teknik pengelasan Shielded Metal Arc Welding (SMAW), serta selanjutnya dilakukan pengujian tarik dan uji kekerasan untuk menilai kualitas hasil lasan. Hasil pengujian menunjukkan bahwa elektroda E 7016 menghasilkan nilai kekuatan tarik lebih tinggi dibanding elektroda E 6013. Selain itu, variasi jenis elektroda juga mempengaruhi distribusi kekerasan pada zona las, dimana elektroda E 7016 cenderung menghasilkan distribusi kekerasan yang lebih tinggi dibandingkan elektroda E 6013. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemilihan jenis elektroda yang tepat dalam proses pengelasan SMAW sangat penting untuk meningkatkan kualitas sambungan las pada baja ST.32. Temuan ini memberikan panduan praktis bagi para praktisi industri pengelasan dalam memilih jenis elektroda yang optimal untuk aplikasi spesifik yang melibatkan baja ST.32. Kata kunci: pengelasan SMAW, baja ST.32, elektroda E 6013 dan E 7016, kekuatan tarik dan kekerasan.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi suhu tempering terhadap kekerasan dan mikrostruktur baja paduan AISI 4140, yang banyak digunakan dalam pembuatan komponen turbin gas. Penelitian dilakukan dengan perlakuan panas pada tujuh spesimen silinder baja AISI 4140, yang diaustenitisasi pada suhu 850 °C diikuti dengan proses quenching menggunakan oli SAE 40 dan tempering pada tiga suhu yang berbeda: 250 °C, 350 °C, dan 450 °C. Satu spesimen dibiarkan tanpa perlakuan panas sebagai pembanding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kekerasan tertinggi diperoleh pada suhu tempering 250 °C karena dominasi struktur martensit, mencapai 92,98 RHN. Seiring dengan peningkatan suhu tempering, martensit mulai terurai menjadi struktur ferit, perlit, dan bainit, yang menyebabkan penurunan kekerasan secara bertahap. Pada suhu 350 °C, struktur mikro yang seimbang dengan presipitasi karbida memberikan kekerasan yang cukup (89,79 RHN) serta meningkatkan ketangguhan. Pada suhu 450 °C, struktur menjadi lebih homogen dengan dominasi ferit dan perlit, menghasilkan kekerasan 87,89 RHN. Berdasarkan pengamatan mikrostruktur menggunakan SEM dan hasil uji kekerasan, dapat disimpulkan bahwa temperatur tempering 350 °C memberikan kombinasi terbaik antara kekerasan dan kestabilan mikrostruktur untuk aplikasi turbin gas skala kecil. Kata Kunci: AISI 4140, Tempering, Kekerasan, Mikrostruktur, SEM, Perlakuan Panas
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan panas pasca las (Post Weld Heat Treatment/PWHT) terhadap kekerasan dan struktur mikro baja karbon yang dilas dengan metode Shielded Metal Arc Welding (SMAW) menggunakan elektroda E6013. Proses PWHT dilakukan pada suhu 600 °C dan 650 °C dengan waktu tahan 90 menit, kemudian didinginkan di udara. Uji kekerasan dilakukan dengan metode Rockwell (HRB), sedangkan pengamatan struktur mikro menggunakan mikroskop optik dengan pembesaran 200x. Hasil pengujian memperlihatkan bahwa PWHT menurunkan nilai kekerasan seiring meningkatnya suhu perlakuan panas, dari kondisi struktur martensit pada spesimen tanpa PWHT menjadi campuran ferit dan perlit pada suhu 650 °C, yang berdampak pada peningkatan keuletan material. Perubahan pada struktur mikro ini membuktikan bahwa PWHT mampu mengurangi tegangan sisa pada baja karbon. Kata kunci: PWHT, SMAW, baja karbon , kekerasan, struktur mikro
Pengelasan merupakan metode penyambungan dua atau lebih logam dengan mencairkan logam induk melalui energi panas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh ketebalan material terhadap karakteristik mekanik pada proses pengelasan SMAW. Material yang digunakan adalah baja karbon ST 44 dengan ketebalan 3 mm dan 5 mm, menggunakan arus pengelasan 90 A serta kawat las E308S berdiameter 2,6 mm. Metode pengujian yang diterapkan dalam penelitian ini meliputi uji tarik, uji kekerasan, dan uji metalografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi ketebalan material memengaruhi kekuatan tarik dan kekerasan material. Semakin tebal pelat yang digunakan, semakin tinggi pula nilai kekuatan tarik dan kekerasannya. Sementara itu, hasil uji metalografi menunjukkan bahwa struktur mikro pada spesimen 5 mm memiliki perlit yang lebih halus dibandingkan spesimen 3 mm, dengan dominasi fase ferit. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa peningkatan kandungan perlit dalam struktur mikro berkontribusi terhadap peningkatan kekuatan material.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis defleksi balok tumpuan sederhana dengan beban terpusat menggunakan metode elemen hingga. Pengujian defleksi atau lendutan pada balok tumpuan sederhana dengan beban terpusat menggunakan metode elemen hingga menghasilkan nilai yang sebanding dengan beban yang diberikan, dimana pada beban 10 N nilai defleksi eksperimen 0,38 mm dan nilai defleksi teoritis 0,49 mm. Beban 20 N nilai defleksi eksperimen 0,79 mm dan nilai teoritis 0,99 mm. Pada beban 30 N nilai defleksi ekperimen nya 1,13 mm dan nilai defleksi teoritisnya 1,49 mm. Dan pada beban 40 N nilai defleksi eksperimen 1,53 mm dan nilai defleksi teoritisnya 1,99 mm. Nilai defleksi ini selain dipengaruhi oleh beban, dipengaruhi juga oleh geometri balok, material yang digunakan dan juga tumpuan yang digunakan. Kata kunci: Defleksi Balok, Beban Terpusat, Tumpuan Sendi-Rol, Metode Elemen Hingga (FEM)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi suhu austenitisasi terhadap transformasi mikrostruktur dan kekerasan baja karbon S45C yang telah diberi perlakuan panas quenching dan tempering. Proses austenitisasi dilakukan pada tiga variasi suhu, yaitu 800 °C, 850 °C, dan 900 °C, dengan waktu tahan selama 30 menit, kemudian dilanjutkan proses quenching menggunakan media oli SAE 40. Setelah itu, spesimen diberi perlakuan tempering pada suhu 200 °C selama 30 menit dan didinginkan di udara bebas. Hasil pengujian menunjukkan bahwa variasi suhu austenitisasi memberikan pengaruh terhadap struktur mikro dan nilai kekerasan material. Pada suhu 800 °C, struktur mikro terdiri atas martensit yang mulai terbentuk, perlit, dan sedikit ferrit. Pada suhu 850 °C, struktur martensit terbentuk paling dominan dengan sedikit perlit dan hampir tanpa ferrit, menghasilkan nilai kekerasan tertinggi. Sedangkan pada suhu 900 °C, terjadi pertumbuhan butir berlebih dan munculnya kembali ferrit serta karbida sisa, yang menyebabkan penurunan kekerasan. Nilai kekerasan tertinggi diperoleh pada spesimen yang dipanaskan pada suhu 850 °C karena struktur martensit yang terbentuk secara optimal. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa suhu austenitisasi 900 °C merupakan suhu paling efektif dalam membentuk struktur martensit dan meningkatkan kekerasan baja karbon S45C pada perlakuan quenching dan tempering. Kata Kunci: S45C, heat treatment, suhu austenitisasi quenching, tempering, kekerasan, struktur mikro.