Temukan koleksi jurnal penelitian ilmiah mahasiswa UKIP
Penelitian ini bertujuan untuk Untuk mengetahui pengaruh waktu perendaman terhadap laju korosı pada media air laut dan air sumur Perendaman dilakukan selama 5 hari (120 jam), 10 hari (240 jam),15 hari (360 jam) dan 20 hari (480 jam) masing-masing dalam wadah yang berbeda-beda. Dari hasil penelitian pada pengujian laju korosi didapat nilai laju korosi dengan satuan mm/thn. Berdasarkan hasil penelitian, nilai laju korosi pada media air laut selama perendaman 5 hari adalah 0,07199 mm/thn, perendaman 10 hari adalah 0,0,08483 mm/thn, perendaman 15 hari adalah 0,07717 mm/thn dan perendaman 20 hari adalah 0,09235 mm/thn. Nilai laju korosi pada air sumur selama perendaman 5 hari adalah 0,04105 mm/thn, perendaman 10 hari adalah 0.04600 mm/thn, perendaman 15 hari adalah 0,04397 mm/thn, dan perendaman 20 hari adalah 0,05117 mm/thn. Perubahan warna tersebut sebagai bentuk produk korosi seragam. Kata kunci: Korosi, Pengkaran, Elekrokimia, Upaya Pencegahan Korosi
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh sudut kampuh las terhadap defleksi pada baja ST 44. Metode penelitian ini adalah baja ST 44 dengan kampuh V 60°, V 70°, V 80°, dan V 90° yang digunakan dalam penelitian ini. Pengujian meliputi pengujian tarik dan pengujian defleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi kampuh V berpengaruh terhadap elastisitas baja ST 44 dimana sudut paling optimal dalam menjaga ketangguhan baja ST 44 yaitu V 70° dengan nilai modulus elastisitas 120.000 N/mm2 mendekati nilai spesimen normal yaitu 128.000 N/mm2. Selain itu, variasi sudut kampuh V juga berpengaruh terhadap defleksi baja ST 44, sudut yang optimal dalam menjaga defleksi baja ST 44 yaitu kampuh V 70° dengan nilai defleksi 1,92 mm, mendekati nilai spesimen normal yaitu 1,8 mm. Kata kunci: Variasi Sudut Kampuh V, Defleksi, Baja ST 44
PT Win Wahana Cipta Marga adalah perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi infrastruktur, dimana alat berat seperti dump truck berperan penting dalam operasionalnya. Penelitian ini mengkaji penerapan Reliability Centered Maintenance (RCM) dalam menganalisis mode kegagalan pada sistem Differential. Dengan menggunakan RCM information worksheet untuk analisis Failure mode dan efek analisis, ditemukan 5 mode kegagalan pada sub sistem final gear dan 8 mode kegagalan pada komponen pendukung differential. Berdasarkan RCM decision worksheet, strategi pemeliharaan yang ditentukan meliputi tugas pemeliharaan terjadwal untuk mencegah kegagalan pada sub sistem final gear, dimana 3 dari 5 mode kegagalan dapat dicegah dengan scheduled discard task dan 2 mode kegagalan dengan scheduled on condition task. Pada komponen pendukung differential, 8 mode kegagalan dapat dicegah dengan kombinasi tugas terjadwal dan run to failure maintenance, dengan lima mode kegagalan dicegah melalui scheduled discard task. Penelitian ini memberikan panduan komprehensif dalam menentukan tugas pemeliharaan yang tepat guna meningkatkan keandalan dan keselamatan operasional sistem differential. Kata Kunci: Perawatan , Dump Truck, Gardan, Relibiality Centered Mintenance
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kekuatan tarik dan bending pelat stainless steel akibat pengaruh metode pengelasan MIG. Penelitian ini menggunakan material pelat stainless stell dengan ketebalan 2,35 mm dan menggunakan metode pengelasan adalah MIG dengan gas CO2, Tekanan gas divariasikan pada tekanan 30 bar, 35 bar dan 40 bar. Arus pengelasan yang digunakan adalah konstan pada 60 ampere. Spesimen uji tarik menggunakan standar ASTM E8 dan uji bending dengan standar ASTM E23-02 Pengujian dan pengambilan data dilakukan pada Laboratorium Metallurgi Fisik Program Studi Teknik Mesin UKI Paulus Makassar.Pada hasil penelitian dan proses perhitungan diketahui bahwa metode pengelasan MIG berpengeruh terhadap kekuatan tarik material, semakin besar tekanan gas yang diberikan maka semakin besar pula nilai kekuatan tarik yang didapatkan pada tekanan gas 30 bar diperoleh 286,45 MPa, pada tekanan gas 35 bar 407,98 MPa, pada tekanan gas 40 bar 463,09 MPa, sedangkan pada spesimen normal tanpa pengelasan diperoleh nilai kekuatan tarik sebesar 714,68 MPa, Metode pengelasan MIG berpengaruh terhadap kekuatan bending material, semakin besar tekanan gas yang diberikan maka semakin besar pula nilai kekuatan bending yang didapatkan. Pada tekanan gas 30 bar diperoleh 355,93 MPa, pada tekanan gas 35 bar 576,42 MPa, dan pada tekanan gas 40 bar diketahui 779,32 MPa, sedangkan pada spesimen normal tanpa pengelasan diperoleh nilai kekuatan bending sebesar 632,00 MPa. Kata kunci: Stainless Stell, MIG, Pengelasan, Pengujian Tarik.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cara perencanaan pembuatan kincir air area pertanian didesa lembang mesakada kabupaten pinrang dan menentukan jenis kincir yang cocok dengan kondisi sumber air. Penelitian perencenaan kincir air ini menggunakan bola pimpong dan meter. Manfaat penelitian ini sebagai bahan referensi untuk penelitian lebih lanjut mengenai pengembangan perencanaan kincir air. Metode yang digunakan metode survei yaitu observasi atau melihat langsung lokasi penelitian, metode pengukuran untuk pengumpulan data, dan metode internal yaitu mengumpulkan informasi melalui buku-buku atau referensi yang didapatkan. Hasil dari perhitungan perencanaan kincir air adalah sebagai berikut: Luas penampang = 3,18 m2, kecepatan aliran = 1,2345 m/s, debit = 3,92 m3/s, daya air (Pair) = 20381 watt, volume air = 12700 m3, massa air = 12.700 kg, energi kinetik = 9676,76 joule, luas penampang basah = 0,075 m2, keliling basah = 0,8 m, jari-jari hidrolik = 0,093 m, jari-jari kincir = 1,57 m, lebar sudu = 0,53 m, jarak sudu = 0,044 m, kecepatan keliling kincir = 0,4938 m/s, putaran kincir = 3 rpm, gaya fluida = 4846 N, torsi = 7608 Nm, daya kincir (Pkincir) = 14333 watt, efisiensi kincir = 70 %. Kata Kunci : Perencanaan Kincir air undershot, Energi Kincir, Efisiensi.
Menurut definisi Doutche Industrie Normen (DIN), las adalah ikatan metalurgi pada sambungan logam atau paduan logam yang dilakukan dalam keadaan dilumasi atau cair, tujuan ini pada dasarnya dimiliki oleh semua teknik pengelasan baja. Standar spesimen yang digunakan adalah standar ASTM E8 (American Test and Material Association). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh hasil pengelasan SMAW dan GTAW pada mild steel terhadap kekuatan tarik. Penelitian ini menggunakan bahan baja karbon rendah (mild steel), bahan dilas dengan menggunakan pengelasan SMAW dan GTAW. Jenis elektroda yang digunakan E7016 dan ER70S-6 kampuh v dengan sudut 60o.Pada hasil pengujian tarik, nilai tertinggi yang didapatkan pada tegangan tarik maksimum dari hasil pengelasan SMAW adalah Arus 105 Ampere yaitu 46,06 kgf/mm2 sedangkan pada pengelasan GTAW nilai tertinggi yang didapatkan pada tegangan tarik maksimum adalah pada Arus 105 Ampere yaitu 50,04 kgf/mm2. Penyebab pengelasan GTAW lebih kuat adalah karena pengelasan GTAW menggunakan gas argon sebagai pelindung cairan las sehingga tidak terkontaminasi oleh udara luar serta membuat cairan las lebih padat. Kata kunci : Mild steel, arus, pengelasan, kekuatan tarik, SMAW dan GTAW.
Flux Cored Arc Welding (FCAW) adalah salah satu las listrik yang banyak digunakan di dunia industri karena proses pengelasannya yang cukup cepat. FCAW jenis las listrik yang memasok filler kawat las secara mekanis terus ke dalam busur listrik yang terbentuk diantara ujung filler kawat las dan logam induk. Pengujian tarik untuk mengetahui sifat-sifat mekanis dari material baja paduan rendah sebagai material uji dalam penelitian ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh kuat arus terhadap kekuatan tarik baja karbon hasil pengelasan FCAW dan seberapa kuat kekuatan tarik baja karbon hasil pengelasan FCAW. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan januari-februari 2024 di Laboratorium Fakultas Teknik Program Studi Teknik Mesin Politeknik Negeri Ujung Pandang dan Laboratorium Metalurgi Fisik Fakultas Teknik Program Studi Teknik Mesin Universitas Kristen Indonesia Paulus.. Proses pengambilan data dilakukan secara eksperimental dengan mengoperasikan alat secara langsung dan mencatat data yang diperoleh. Data kemudian diolah dan diperoleh hasil. Dari penelitian yang dilakukan diperoleh kekuatan tarik tertinggi pada plat baja St 34 dengan ketebalan 4 mm terdapat pada pengelasan 100 Ampere dengan nilai rata-ratanya 358,85 kgf/mm2 sedangkan nilai kekuatan tarik maksimum terendah adalah pengelasan arus 80 ampere yaitu 35,42 kgf/mm2 . Kata kunci: Kuat Arus, Kekuatan Tarik, Pengelasan FCAW
Turbin pelton adalah jenis turbin air implus yang memanfaatkan energi potensial air sebagai sumber listrik. Energi potensial yang terkandung dalam air dihasilkan dari air yang jatuh tinggi atau sebagai akibat dari pembuangan air yang mengalir dari sungai. Potensi kebutuhan air dengan head tinggi dan debit kecil menjadikan turbin Pelton pilihan yang tepat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh diameter nozzle terhadap kinerja turbin pelton. Setelah menganalisis data dari hasil yang diperoleh pada setiap variasi diameter yang telah diuji, kemudian buatlah grafik dengan menggunakan rata-rata Head sehingga dapat dilihat pengaruh Head terhadap Turbin Pelton. Prosedur pengujian yang dilakukan pada penelitian turbin pelton dengan mengatur variasi diameter nozzle. 1.Memeriksa instalasi turbin pelton,2.Mengisi air kedalam drum air hingga terisi berkisar 34⁄ volume drum,3.Tutup rumah turbin.Sambungkan cok listrik pada tubrin pelton ke sumber listrik,4.Nyalakan inverter frekuensi dan juga lampu pada setiap sambungan yang terpasang Saat runner turbin sudah berputar, lihat data beban, kecepatan alir, kuat arus, tengan, tekanan suction, tekanan discharger yang tertera kemudian dicatat data tersebut,5.Melihat kecepatan putaran generator dengan menggunakan tachometer digital yag dihubungkan pada poros generator, kemudian dicatat kecepatan putaran tersebut,6.Melihat daya output , lalu dilihat lampu yang menyala pada saat pengujian, kemudian dicatat data tersebut,7.Ulangi langkah 1-4 dengan mengatur diameter menggunakan inverter frekuensi sebesar 8,3 m (44hz) dan (8,1hz) untuk mendapatkan data selanjutnya,8.Mengolah data penelitian yang didapatkan, 9.Mengalisa data penelitian untuk mengetahui hubungan antara variable yang telah di tentukan, 10.Menarik kesimpulan data penelitian untuk mengetahui hubungan antara hubungan varieable yang telah dientukan, 11. Dari pengujian ini didapatkan variasi diameter nozzle 19mm mendapatkan tekanan suction sebesar 1,97 Psi dan 1,95 Psi sedangkan tekanan discharge sebesar 14,28 Psi dan 14,22 Psi, Variasi diameter nozzle 23mm mendapatkan tekanan suction sebesar 2,30 Psi dan 2,30 Psi sedangkan tekanan discharge sebesar 14,36 Psi dan 14,35 Psi, Variasi diameter nozzle 25mm mendapatkan tekanan suction sebesar 2,43 Psi dan 2,40 Psi sedangkan tekanan discharge sebesar 14,43 Psi dan 14,46 Psi, Variasi diameter nozzle 28mm mendapatkan tekanan suction sebesar 2,79 Psi dan 2,42 Psi sedangkan tekanan discharge sebesar 14,50 Psi dan 14,55 Psi. Kata Kunci: Turbin Pelton, Diameter Nozzle, Head.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kekuatan tarik dan defleksi tulang kerbau. Kegiatan penelitian ini dilakukan pada Lab Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Kristen Indonesia Paulus Makassar. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah pengujian tarik dan defleksi untuk mengetahui kekuatan tarik tulang kerbau dan kelendutan tulang kerbau. Berdasarkan penelitian dan analisa data yang telah dilakukan, maka didapatkan kesimpulan sebagai berikut. Pengasapan berpengaruh terhadap kekuatan tarik tulang kerbau dimana kekuatan tarik tulang kerbau tanpa pengasapan (𝜎) = 58,50 MPa, sedangkan kekuatan tarik tulang kerbau dengan pengasapan 5 hari sebesar (𝜎) = 75,94 MPa. Defleksi tulang kerbau yang tanpa di asapi dan yang di asapi untuk beban yang sama menghasilkan defleksi yang berbeda, untuk beban 5 N defleksi, tulang kerbau tanpa pengasapan (𝑌) = 0,196 mm sedangkan yang dengan pengasapan (𝑌) = 0,144 mm. Beban berbanding lurus dengan defleksi, semakain besar beban semakin besar defleksi. Kata kunci : Tulang Kerbau, pengujian Tarik, Pengujian Defleksi