Temukan koleksi jurnal penelitian ilmiah mahasiswa UKIP
<div>The construction service sector is a community activity to realize the national development objectives that must ensure legal order and certainty. In general, the problem with infrastructure in the province of South Sulawesi is that the level of service performance is still not optimal, particularly the availability of construction experts that are not yet optimal both in terms of data collection and training, as well as the availability of information on construction services that has yet to be optimal. The authority of the Governor regarding the Construction Services Management is a concurrent governmental affair that has been delegated to the governor, which is also an implementation of the principle of deconcentration relating to 2 (two) matters, namely: (1) managing training for construction experts and (2) implementing a construction service information system with provincial area coverage.Construction Service Affairs in South Sulawesi are carried out by the Public Works and Spatial Planning Department of the province of South Sulawesi in the field of construction services. However, they have not been carried out in accordance with the concerns provided in the context of construction services. Therefore, it is necessary to establish a regional regulation regarding the implementation of construction services in the province of South Sulawesi pertaining to Government affairs in the Public Works and Spatial Planning sector that has not been conducted in accordance with governmental affairs in the Public Works and Spatial Planning sector. Keywords: Authority; Regional Government; Construction Service;</div>
<div>Penelitian ini menganalisis implementasi prinsip akuntabilitas dalam penyelenggaraan pendidikan di Kabupaten Tolikara serta partisipasi dan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah metode normatif-empiris dengan pendekatan kualitatif; peneliti mengkaji peraturan perundang-undangan dan dokumen terkait, serta mengumpulkan data lapangan melalui wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prinsip akuntabilitas di Kabupaten Tolikara diimplementasikan sebagai pertanggungjawaban atas keberhasilan proses belajar-mengajar dan perkembangan peserta didik dalam mencapai tujuan pendidikan yang ditetapkan pemerintah daerah. Pelaksanaan akuntabilitas ini dilakukan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Tolikara sesuai kewenangannya. Selain itu, ditemukan bahwa partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan di Tolikara terwujud dalam beberapa bentuk: mulai dari partisipasi dalam memperoleh informasi, partisipasi melalui konsultasi, partisipasi berupa kontribusi material, hingga partisipasi mandiri oleh masyarakat (self-mobilization). Partisipasi yang aktif dan bermakna tersebut berperan penting dalam membangun kepercayaan publik terhadap penyelenggaraan pendidikan. Kata kunci : Penyelenggaraan Pendidikan, Partisipasi Masyarakat, Tolikara</div>
<div>Pidana pelayanan masyarakat penting untuk dijadikan sebagai alternatif bentuk pidana dalam mewujudkan pembaruan hukum pidana anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memberikan pemecahan atas masalah pentingnya pidana pelayanan masyarakat untuk dijadikan sebagai alternatif bentuk pidana dalam mewujudkan pembaruan hukum pidana anak khususnya di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif atau doktrinal yang akan mengkaji dan menganalisis norma dan doktrin serta teori yang terkait dengan pidana pelayanan masyarakat sebagai alternatif bentuk pidana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pidana pelayanan masyarakat penting untuk dijadikan sebagai alternatif bentuk pidana dalam mewujudkan pembaruan hukum pidana anak di Indonesia berdasarkan argumentasi: kesesuaian pidana pelayanan masyarakat dengan konsep keadilan restoratif, kesesuaian pidana pelayanan masyarakat dengan teori Individualisasi Pidana, kesesuaian pidana pelayanan masyarakat dengan trend perkembangan dunia internasional, dan kesesuaian pidana pelayanan masyarakat dengan tujuan pemidanaan dan pembinaan bagi terpidana anak. Kata Kunci: Pidana Pelayanan Masyarakat, Pembaruan Hukum, Pidana Anak.</div>
<div>Semantics is a branch of linguistics that studies a meaning in a language such as lexical or word meanings and structural meanings such as the meanings of declarative, interrogative, and imperative sentences used in a text to deliver messages for effective written communication. This study aims (1) to explain the type of meanings contained in the Regulation of the Governor of South Sulawesi No. 22, 2020 and Makassar Mayor No. 36 of 2020, (2) describe the objectives that speakers want to convey contained in the Regulation of the Governor of South Sulawesi No. 22 of 2020 and Makassar Mayor No. 36 of 2020 following the context, and (3) explain the meaning of the legal language in both regulations. The benefits obtained from this research are to know and implement the effectiveness of meanings of the legal language implied in the two regulations by the public. This can be traced through the spread of pandemic covid-19 that can be obtained through the website of the Task Force handling Covid-19 in South Sulawesi province and through supporting information in social media. The method used in this research is qualitative descriptive analysis. The data are words, phrases, and sentences taken purposively from the text of The Regulations of Governor of South Sulawesi No. 22 of 2020 and Makassar Mayor No.36 of 2020, as well as social media using the saturated technique, note-taking technique, and recording technique. The data are analysed using descriptive analysis. The results show that the legal language presented in the Regulation of the Governor of South Sulawesi No. 22 of 2020 and The Makassar Mayor No. 36 of 2020 on the prevention of Covid-19 in the form of affirmative and imperative sentences (directive) as an effort to suppress the spread of covid-19 in Indonesia. Keywords: Semantics, Legal Language, Mayor and Governor, Regulation Pandemic Covid-19</div>
<div>Statistik kriminal mengenai kekerasan seksual terhadap anak di Indonesia dari tahun 2016 hingga 2019 menunjukkan peningkatan yang signifikan. Namun, angka ini diyakini belum mencerminkan keseluruhan realitas, karena kemungkinan masih banyak kasus yang tidak tercatat atau tidak teridentifikasi oleh otoritas maupun masyarakat, yang dikenal sebagai kejahatan tersembunyi (hidden crime). Reformulasi sanksi kebiri kimia terhadap pelaku kekerasan seksual terhadap anak menetapkan bahwa pelaksanaan kebiri kimia dilakukan dua tahun sebelum masa hukuman pokok berakhir. Penetapan waktu ini disebabkan oleh keterbatasan medis terkait durasi efektivitas suntikan kebiri kimia dalam tubuh terpidana. Selain itu, perlu adanya harmonisasi dan sinergi dalam proses pelaksanaan agar tidak terjadi tumpang tindih yang dapat menimbulkan kebingungan di antara aparat penegak hukum. Kata Kunci: Anak; Kekerasan Seksual; Kebiri Kimia; Kejahatan Tersembunyi; Sanksi</div>
<div>Perkembangan teknologi informasi telah membawa perubahan fundamental dalam sistem pembuktian pidana di Indonesia. Alat bukti elektronik seperti rekaman CCTV, percakapan digital, dan dokumen elektronik kini semakin sering digunakan dalam proses persidangan pidana. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas penggunaan alat bukti elektronik menurut hukum acara pidana yang berlaku, dengan fokus pada metode pembuktian serta kendala-kendala yang dihadapi dalam praktik peradilan. Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normatif melalui studi kepustakaan terhadap peraturan perundang-undangan, putusan pengadilan, serta literatur hukum terbaru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun alat bukti elektronik telah diakui dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), KUHAP belum mengatur secara eksplisit tentang klasifikasi dan prosedur pembuktian alat bukti elektronik. Hal ini menimbulkan variasi dalam penerapan hukum di persidangan. Kendala utama dalam pembuktian alat bukti elektronik antara lain adalah persoalan autentikasi, keterbatasan pemahaman teknis aparat penegak hukum, serta belum adanya pedoman teknis yang baku dari Mahkamah Agung. Oleh karena itu, diperlukan pembaruan hukum acara pidana yang lebih responsif terhadap perkembangan teknologi, peningkatan kapasitas SDM aparat penegak hukum, serta harmonisasi antar regulasi yang mengatur pembuktian elektronik. Kata Kunci : Alat Bukti Elektronik, Hukum Acara Pidana, Pembuktian, UU ITE</div>
<div>Perhatian terhadap masalah lingkungan hidup tidak hanya sebatas masalah lokal atau nasional tetapi juga merupakan masalah internasional. Perlindungan terhadap lingkungan hidup telah menjadi agenda besar komunitas masyarakat internasional yang didasari pada kenyataan berbagai peristiwa pencemaran dan kerusakan lingkungan yang membawa dampak sangat besar dalam kehidupan manusia. Artikel ini menganalisis hubungan antara lingkungan hidup dengan Hak Asasi Manusia dan kebijakan pemerintah Indonesia dalam melakukan perlindungan lingkungan Hidup. Tujuan penulisan ini adalah mengetahui korelasi antara Hak Asasi Manusia dengan lingkungan hidup, dan mengetahui kebijakan pemerintah Indonesia terkait hal tersebut. Melalui artikel ini diketahui bahwa lingkungan hidup merupakan bagian yang inheren dengan Hak Asasi Manusia, di mana hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat merupakan Hak Asasi Manusia. Selain itu, pemerintah Indonesia juga telah mengambil langkah dan upaya dalam menjamin perlindungan lingkungan hidup yang salah satunya melalui instrumen hukum undang-undang. Kata Kunci : Hak Asasi Manusia; Lingkungan Hidup; Perlindungan</div>
Asas berperkara (perdata) di pengadilan adalah berbiaya. Namun, penyelesaiannya dilaksanakan secara cepat, sederhana dan berbiaya ringan. Biaya yang dibebankan oleh pengadilan adalah biaya kepaniteraan dan biaya materai, biaya saksi, ahli, juru bahasa juru sumpah, biaya pemeriksaan setempat, biaya pemangilan dan perbuatan hakim lainnya. Pada perkara prodeo berdasarkan pelaksanaan putusan perkara perdata No. 182/Pdt.g/2013/Pn.Mks yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde) ditemukan hingga saat ini masih mengalami kendala dalam pelaksanaan eksekusinya ; sehingga tujuan dari pelaksanaan putusan yang berkekuatan hukum tetap yakni dijalankannya eksekusi dengan berdasarkan asas peradilan yang berlaku di Indonesia sebagaimana yang diatur oleh Undang-Undang Pokok Kekuasaan Kehakiman. Asas cepat, sederhana dan biaya ringan tidak berjalan sebagaimana mestinya dan tidak efektif. Kata Kunci: Perkara perdata, prodeo, eksekusi
<div>Handling children involved in narcotics crime cases in Indonesia through diversion approach is regulated in various laws, including Law Number 11 of 2012 on the Juvenile Criminal Justice System (SPPA) and Law Number 35 of 2009 on Narcotics. Although this legal framework aims to avoid stigmatization and provide rehabilitation and social reintegration opportunities for children, its implementation still faces various challenges. These challenges include a lack of understanding among law enforcement officers, suboptimal inter-agency coordination, limited rehabilitation facilities, and societal resistance and stigma. To overcome these obstacles, increased training and socialization for law enforcement, strengthened inter-agency coordination, additional rehabilitation facilities, and public education are needed. With these efforts, diversion approach are expected to be more effective in supporting children's recovery and reintegration into society, as well as creating a more humane and just juvenile criminal justice system. Keywords: diversion, narcotics crime, juvenile criminal law</div>